“Selamat menerima kejutan tak terduga di hari inspirasi nanti, Para Relawan. Sekarang kalian memang masih bisa tertawa-tawa, nanti hari H bisa nangis di depan kelas,” seru Bayu, seorang Komite Khusus yang diimpor dari Jakarta oleh panitia Kelas Inspirasi Semarang saat briefing 13 September 2014 lalu.

Pagi itu Bayu berkolaborasi dengan Mas Dika, partnernya di Komite Khusus. Sepak terjang dan pengalaman mereka berdua di Kelas Inspirasi memang bukan gosip baru. Mereka orang kantoran, terikat dengan 12 hari cuti, merogoh kocek pribadi untuk terbang ke sana ke mari. Saya yang pagi itu menjadi salah satu peserta briefing, sudah pasti melongo maksimal. Antara kagum dan penasaran, apa yang membuat mereka berdedikasi tinggi sampai seperti ini? Saya sama seperti mereka, orang kantoran yang terikat akan 12 hari cuti dan segudang aturan lainnya. Terbersit sebuah pikiran “kalau mereka saja bisa, kenapa saya ragu menjadi relawan?” Pengalaman Bayu dan Mas Dika membuat saya ingin ngobrol dengan mereka, minimal harus dapat trikdan ilmu salah satu diantara mereka. Alhamdulillah kemarin berkesempatan ngobrol seru bareng Bayu. Dan….yeah Bayu nggak keberatan menceritakan kiprahnya di Kelas Inspirasi. Horeee….!!!

Sosial media memang mempunyai dampak berbeda-beda untuk setiap orang, bisa berdampak positif atau negatif. Dampak positif sosial media, twitter, yang menyeret Bayu berkecimpung di Kelas Inspirasi. Sebuah wadah gagasan Anies Baswedan bagi para professional untuk cuti sehari memberikan inspirasi bagi anak-anak SD. Keliatannya simpel bukan? Tapi prakteknya? Hahaha. Silakan dicoba kalau yang belum berpartisipasi. Bagi yang sudah, ketagihan nggak?

Bayu Filladiaz Wiranda
, sosok yang selalu terlihat santai ini memutuskan bergabung menjadi anggota Komite Khusus atau sering disebut Komsus pada Desember 2013. Komite Khusus ini bertugas untuk menjaga penyelenggaraan Kelas Inspirasi di daerah-daerah agar sesuai dengan 7 prinsip dasar Kelas Inspirasi, yakni sukarela, bebas berkepentingan, tanpa biaya, siap belajar, terjun langsung, siap bersilaturahmi dan tulus. Selain itu Komsus juga memberikan arahan, bimbingan, suntikan semangat kepada panitia lokal agar bisa menyelenggarakan Kelas Inspirasi sesuai koridor. Komsus ada agar nilai-nilai Kelas Inspirasi tetap ada.“Awal gabung cuma lihat profil dan bentuk kegiatannya yang simpel dan seru aja sih”, tutur Bayu mengenai asal muasalnya bergabung di Kelas Inspirasi. Bayu bergabung menjadi seorang relawan pengajar di Kelas Inspirasi Depok pada Juni 2013. Berawal dari sinilah kiprahnya dimulai, menjadi seorang relawan pengajar. Ternyata Bayu ketagihan, hingga Agustus 2014 bergabung kembali menjadi relawan panitia untuk Kelas Inspirasi Bekasi yang berbarengan dengan Kelas Inspirasi Tangerang dan Bogor.

Februari 2014, Bayu kembali lagi bergabung menjadi relawan di Kelas Inspirasi Ciamis. Sedangkan memulai jejaknya sebagai Komsus pada April hingga September2014 di Kelas Inspirasi Semarang, Medan, Balikpapan, Pekanbaru, Palangkaraya, Lampung dan Jakarta. Wow banget, kan? Keliatannya jadi Komsus enak bisa terbang ke mana-mana? Hihihi. Dedikasi dan kecintaan Bayu pada Kelas Inspirasi membuatnya harus pintar-pintar memutar otak. Menyiasati 12 hari cuti agar tetap bisa mendampingi panitia lokal.

“Kelas Inspirasi salah satu bentuk hiburan di tengah rutinitas kerjaan,” ujar pemuda yang berdomisili di Depok ini. Bagi Bayu dengan mendampingi panitia lokal,sudah pasti akan menambah pengalaman dan mengasah kemampuannya dalam mengajar dan berorganisasi. Bayu juga menemukan cerita dan keseruan yang berbeda di setiap daerah. Hal terpenting adalah di setiap daerah tersebut, Bayu menemukansahabat, teman dan juga keluarga baru. Semangat pemuda ini memang sudah seharusnya menjadi contoh. Banyak yang bisa kita lakukan untuk negeri ini, sekalipun itu dalam skala kecil. Saat ditanya mengapa sampai sakaw menjadi relawan di Kelas Inspirasi, jawabannya begini :

“Aku nggak pernah tahu apa alasannya terus menerus menjadi seorang relawan. Terkadang ketika sudah merasa nyaman, kita nggak akan pernahmemikirkan hal-hal itu”

Nggak cukup sampai di sini kiprah pemuda berperawakan tinggi ini. Bayu jugaberpartisipasi di Kelas Inspirasi Jelajah Pulau lho. Kegiatan ini diprakasai oleh relawan Kelas Inspirasi. Mempunyai konsep dasar yang sama dengan Kelas Inspirasi, hanya saja Jelajah Pulau lebih fokus kepada pengembangan masyarakat. Jelajah Pulau pertama kali diadakan di Kepulauan Seribu.

Bahkan menurut Fajar dan Kinan – dua penggerak Kelas Inspirasi Jogja dan Semarang, Bayu adalah contoh sosok pemimpin walau usianya terbilang muda. Kepiawaian Bayu menanggapi masalah dengan kepala dingin, bijaksana serta menjadi seorang pendengar, membuat keduanya kagum pada pemuda ini. Bayu, sosok sederhana dan dewasa yang selalu mengapresiasi kerja para panitia lokal tanpa pernah menyalahkan jika ada yang keluar dari koridor nilai-nilai Kelas Inspirasi. Selama mendampingi panitia lokal, Bayu hanya menceritakan bagaimanapengalamannya selama mengawal Kelas Inspirasi di daerah lain.Bayu merupakan salah satu Komsus favorit para panitia lokal. Pembawaan Bayuyang ramah membuat para koordinator di daerah-daerah nyaman berkeluh kesah kepadanya. Bayu hanya meminta untuk melakukan hal baik dengan awal sederhana dan hasil nyatanya akan berefek panjang. Tanpa pernah memaksa para panitia lokal berbuat banyak. “Beri kepercayaan yang tinggi kepada panitia lokal, dan mereka akan bisa mengelola dengan sangat baik,” tutur arsitek jebolan Universitas Gunadarma ini.

Sekarang, Bayu menjadi salah satu pengajar muda angkatan IX. Setelahperjuangan drama 5 kali gagal submit essay tapi yang terakhir justru membawa langkahnya menjadi seorang Pengajar Muda. Tergambar jelas bagaimana dedikasiBayu pada dunia pendidikan. Setelah bergelut menjadi relawan dan Komsus, kini Bayu akan menjadi pengajar selama setahun. Segala keputusan yang diambil tentu ada resiko, salah satunya adalah resign dari pekerjaan. Pemuda ini percaya setelah selesai masa pengabdian nanti, akan banyak pekerjaan lain yang bisa dia ambil.

Bayu juga sedang merajut mimpi melanjutkan ke jenjang S2 usai masa pengabdian nanti. Mari kita doakan semoga mimpi arsitek ini terwujud. Aamiin!Pemuda penggemar kucing ini juga berpesan untuk yang belum berkesempatan menjadi pengajar muda, bahwa wadah untuk berperan memajukan pendidikan di Indonesia itu sangat banyak. Pengajar muda hanyalah salah satu dari sekian banyak wadah tersebut.

“Aku sudah berada di tahap menerima segala kondisi. Jadi mau kondisi se-ekstrim apapun diterima saja. Karena memang untuk urusan kaya gini, harus siap dengan berbagai kondisi”

Selamat mengabdi untuk negerimu, Pak Arsitek! Selamat menempuh hidup setahun bersama keluarga baru. Temukan cerita yang lebih seru dari setiap sudut tempat mengabdi. Dan semoga akan banyak pemuda pemudi yang tertular virus ketulusan pengabdian ini.

Semoga usai masa pengabdian nanti, Bayu tetap meneruskan perjuangannya di ranah pendidikan. Kita tunggu kiprah selanjutnya! Walau Komsus telah bubar, bukan berarti tak bisa mengabdi untuk Kelas Inspirasi lagi, bukan?

Note : Semua foto diambil dari FB Bayu Filladiaz Wiranda

 

=========================
Ditulis  14 Desember 2014
Penulis : Lestarie
Sumber tulisan asli : link

MARI BERBAGI :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *