Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman divisi acara melakukan blusukan atau sering dikenal dengan survei ke Sekolah Dasar di kota Semarang. Kenapa harus melakukan blusukan atau survei? Karena kami ingin memberikan yang terbaik buat kamu. Kami rela berpanas-panasan, hujan-hujanan demi apa? Sekali lagi, demi kamu. Para calon relawan pengajar, photographer dan videographer Kelas Inspirasi Semarang.

Masih ada yang nggak tahu apa itu Kelas Inspirasi?

Singkatnya, Kelas Inspirasi adalah sebuah gerakan sehari mengajar di Sekolah Dasar yang dilakukan oleh para profesional dari berbagai bidang profesi.

Apa yang diajarkan?

Para profesional ini bukan mengajar mata pelajaran layaknya para guru Sekolah Dasar. Melainkan mengajar tentang profesi mereka ke anak-anak. Para professional memperkenalkan dan bercerita dengan bahasa sederhana. Harapannya bisa memotivasi anak-anak untuk berani bermimpi besar. Anakpun memiliki gambaran mengenai cita-citanya kelak. Tidak terbatas dengan profesi dilihat dan ditemui sehari-hari di lingkungan tempat tinggalnya.

Hal ini menjadi korelasi dengan SD seperti apa yang kami survei. Bukan sekolah biasa yang kami cari tetapi sekolah yang memenuhi kriteria penilaian Kelas Inspirasi. Terutama SD-SD marginal yang layak untuk diikutsertakan menjadi bagian dalam Kelas Inspirasi Semarang.

Pagi itu saya menjelajahi daerah yang cukup pelosok. Belum pernah saya sambangi. Masuk jalur desa dengan kondisi jalan yang cukup memprihatinkan. Belum sepenuhnya beraspal, masih berbatu dan becek sana-sini. Walaupun begitu ada hal yang patut disyukuri, kami disuguhi pemandangan alam yang mempesona. Perbukitan dan hamparan sawah hijau yang membuat segar mata.

Kunjungan ke SD pertama, kami diterima dengan baik walau Kepala Sekolah tidak berada di tempat karena ada rapat. Saya menyampaikan maksud kedatangan kami ke SD tersebut serta memperlihatkan video kegiatan selama hari inspirasi. Ibu guru yang tadinya terlihat masih bingung, mulai penasaran dan bertanya-tanya lebih lanjut tentang kegiatan ini.

Saya membuka obrolan santai tentang sekolah tersebut. Hingga munculah curahan hati seorang guru. Sebenarnya persoalan ini bukan terjadi di sekolah ini saja. Pernah juga terlontar dari sekolah lain yang sudah pernah kami sambangi.

Apa persoalannya?

Tidak adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua atau wali murid. Tugas orang tua hanyalah membekali pendidikan untuk anak-anak mereka di sekolah. Dengan kata lain mereka mempercayakan penuh anaknya kepada sekolah. Tanpa ikut mendampingi serta membimbing anak-anak ini di rumah. Padahal waktu anak-anak ini lebih banyak dihabiskan di rumah. Sehari-hari orang tua pulang dari mencari nafkah dalam kondisi yang sudah lelah. Mereka harus beristirahat untuk menyongsong rejeki keesokan harinya. Hingga berakibat anak kurang diperhatikan apalagi dibimbing dalam pelajaran.

Jika sudah begini bagaimana pihak sekolah bisa berbicara dari hati ke hati kepada orang tua mengenai perkembangan anak mereka?

Pihak sekolah hanya bisa bertemu dengan orang tua siswa pada saat pengambilan rapor. Itupun tidak semua orang tua datang tapi lebih sering diwakilkan kepada eyang, kakak atau orang yang dipercaya. Bahkan tidak sedikit yang rapornya tidak diambil. Pekerjaan orang tua murid rata-rata sebagai buruh bangunan, buruh tani, buruh pabrik dan lain-lain. Mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan orang tua tidak mengambil rapor anak atau diwakilkan. Karena sesuai kalender dari pemerintah kegiatan pengambilan rapor sudah terjadwal dan selalu jatuh di hari Sabtu dimana para orang tua masih harus bekerja.

Bagaimana anak-anak ini ketika sudah lulus?

Mereka rata-rata tetap melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tetap semangat sekolah tapi kurang mendapat dukungan. Disini ada yang menarik, orang tua murid yang memiliki background pendidikan tinggi atau berprofesi sebagai guru mensupport penuh anak-anaknya untuk sekolah dimanapun itu. Melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi hanya untuk melengkapi syarat yang sudah membudaya “yang penting sekolah”. Ngapain sekolah jauh-jauh, biayanya lebih besar apalagi untuk transpot. Dilematis memang, di satu sisi pihak sekolah sudah berusaha merangkul orang tua untuk bekerjasama mendidik anak. Di sisi lain ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Hal ini menyangkut kondisi perekonomian serta background pendidikan orang tua.

Inilah mengapa hadir Kelas Inspirasi. Semoga dengan mendatangkan profesional, ada interaksi positif dengan pihak sekolah. Membawa angin segar dan solusi untuk persoalan-persoalan yang terjadi di sekolah. Sehingga ikut berkontribusi untuk menciptakan pendidikan yang semakin berkualitas dan berdaya saing tinggi.

 

Penulis :
Indriy Gilang

Sumber foto (hanya sebagai ilustrasi) :
Dokumentasi Kelas Inspirasi Semarang

 

(Visited 2,316 times, 1 visits today)
MARI BERBAGI :

One Comment

  1. Cukup menarik, saat ini banyak profesi yg belum dikenal oleh anak2 maupun masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *