Kelas Inspirasi, adalah suatu pengalaman tentang sudut pandang.

Adakalanya kita diperlihatkan oleh orang-orang di sekitar kita mengenai cerita yang membangun. Bagaimana cerita tersebut akhirnya berdampak pada diri kita dan orang lain, di sekitarnya.

Melalui Kelas Inspirasi, kita bermain sudut pandang. Kita akan menjadi bagian besar dari sebuah inspirasi. Akan ada banyak jiwa-jiwa muda yg lapar akan inspirasi dan informasi.

Mari ikut membangun mimpi anak Indonesia, dengan Kelas Inspirasi.

Juli 1997

Hari itu saya masuk masuk kelas 5 sekolah dasar, SD Islam Tunas Harapan Semarang. Tidak ada yang spesial pada hari itu. Belum ada yang spesial pada hari itu. Saya mengikuti pelajaran yang sangat mendasar. Motivasi saya berangkat dari rumah adalah agar bisa bermain bola dengan teman-teman. Saya paling jago saat itu. Kebanyakan saat ada di dalam kelas, saya memikirkan gol-gol yang saya cetak nanti pada jam istirahat dan jam pulang. Pelajaran sungguh tidak menarik minat saya.

Hingga datanglah sesosok guru baru, pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris (sekolah swasta tempat saya belajar ini tidak memakai sistem guru kelas di kelas 5 dan 6). Kami belajar bernyanyi, menghafal kata dan bermain permainan Hang-man. Seolah kelas menjadi taman bermain yang luar biasa! Pelajaran bahasa inggris adalah satu-satunya dimana saya tidak lagi memikirkan sepak bola.

Agustus 2016

Sudah setahun saya bekerja sebagai staff di sebuah Non-Governmental Organization yang bergerak di bidang pertukaran relawan sebagai agen perdamaian dunia. Saya mahir bercakap-cakap dengan beberapa rekan di PBB dan organisasi bawahannya, mengadakan training diberbagai macam area semisal Public Speaking, Team Building, International Relation, Communication dll. Hal ini tidak luput atas terispirasinya diri saya oleh bapak guru bahasa Inggris saya. Terima kasih. Saya juga mulai mempelajari bahasa asing lain seperti bahasa Spanyol.

Kemudian munculah tawaran dari Kelas Inspirasi untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak SD marjinal di kota Semarang. Ingatan saya kembali terbang menuju tahun 1997, di mana seorang guru Bahasa Inggris dengan kemampuannya menyulap kelas menjadi taman belajar yang sangat seru. I was thinking, I can do this. Kemudian saya mendaftarkan diri, dan terpilih untuk ditempatkan ke SD PGRI 02.

Saya hanyalah seorang staff kantor. Untuk menjelaskan pekerjaan saya kepada adik-adik SD PGRI 02 tentu saja membutuhkan cara yang menarik agar adik-adik tertarik. Akhirnya saya membubuhkan profesi sebagai TRAINER di tanda pengenal Kelas Inspirasi. Setiap kali masuk kelas, saya memperkenalkan diri sebagai seorang trainer. Kemudian adik-adik bertanya “Trainer kerjanya ngapain kak?” Saya menjawab “kakak kerjanya ngobrol dengan teman-teman kakak.” Karena saya masih ingat betul bagaimana guru bahasa Inggris saya membuat saya suka bahasa sebagai sarana komunikasi, maka misi utama inilah yang saya bawa untuk mengispirasi adik-adik SD PGRI 02. Saya mulai dengan permainan dengan bahasa Inggris. Kemudian beralih ke bahasa Spanyol, Jepang, dan Korea. Kami bermain tepuk, kami bermain tag dan masih banyak lagi. Kami mencoba berpuisi, kami mencoba hampir apapun yang kami sukai pada hari tersebut. Ternyata begini rasanya kembali ke tahun 1997 sebagai orang yang berbeda. Ternyata begini rasanya kembali ke tahun 1997 dengan jiwa yang baru.

Sampai saat ini masih bangga rasanya memberikan inspirasi kepada adik-adik. Terlebih lagi memberikan diri saya sedikit sudut pandang mengenai dukungan yang kuat terhadap dunia pendidikan. Sayang sekali masa sekolah dasar sudah tidak bisa lagi dinikmati di usia ini. Namun saya yakin, saya tetap bisa terus menginspirasi adik-adik dan berbagi keindahan saat duduk di bangku sekolah dasar, melalui Kelas Inspirasi.

 

======================================= =======================================

Penulis : Jene Pradana Wisanggeni – Staff/Trainer Gerakan Kerelawanan Internasional (greatindonesia.org)

Sumber foto : Jene Pradana

 

 

MARI BERBAGI :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *