Kelas Inspirasi SemarangKelas Inspirasi Semarang lahir dari semangat Kelas Inspirasi kota lain yang telah lebih dahulu menyelenggarakan Kelas Inspirasi. Alumni pengajar Kelas Inspirasi di beberapa kota lain yang kebetulan berdomisili di Kota Semarang tahun 2014 berkumpul dan mulai menginisiasi Kelas Inspirasi Semarang. Jeudi Putri Pratiwi dari Kelas Inspirasi Jakarta, Kinanti Anggraeni dari Kelas Inspirasi Yogyakarta, Faiz Jazuli dari Kelas Inspirasi Bandung, dan Lufthans Arstipendy dari Kelas Inspirasi Madiun. Dibantu oleh relawan Komite Khusus Kelas Inspirasi, Bayu F. Wiranda dan Dika Mohammad Ikhsan akhirnya Kelas Inspirasi Semarang pertama kali berhasil diselenggarakan serentak di 13 SD pada tanggal 25 September 2014.

Proses inisisasi Kelas Inspirasi Semarang bukanlah hal yang mudah. Ada prinsip dasar Kelas Inspirasi yang harus dipegang teguh oleh para pegiatnya. Mengalami beberapa penolakan di sekolah-sekolah adalah hal yang wajar, karena gerakan ini sepenuhnya dikelola oleh relawan tanpa membawa embel-embel instansi atau lembaga tertentu. Satu-satunya kepentingan adalah untuk anak-anak Indonesia. Panitia awal Kelas Inspirasi Semarang dibentuk oleh 4 orang yang kemudian mengajak teman masing-masing untuk ikut turun tangan dan iuran demi terselenggaranya Kelas Inspirasi Semarang. Berkumpul dari bulan April 2014, melalui grup whatsapp, sekitar 30 orang dari berbagai profesi dan juga mahasiswa ikut serta berdiskusi bagaimana cara menginisisasi Kelas Inspirasi yang simple dan asik.

Hari berganti, tahun berlalu, Kelas Inspirasi Semarang berproses menjadi gerakan mengajar sehari yang semakin banyak diminati berbagai profesi. Sambutan hangat Bapak Ibu Guru di sekolah-sekolah menjadi amunisi semangat kami untuk terus bergerak. Karena gerakan ini bukan tentang diri kita sendiri, gerakan ini adalah tentang mimpi dan cita-cita pendiri bangsa ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka sudah sewajarnya jika kita ikut terus mewujudkan cita-cita itu, mulai dari hal yang kecil, mulai dari Kelas Inspirasi.

LOGO KELAS INSPIRASI SEMARANG

Logo Kelas Inspirasi Semarang di-desain sama persis dengan logo Kelas Inspirasi kota lain. Lufthans Arstipendy menambahkan kata “Semarang” di bagian bawah logo dengan bentuk huruf lung Jawa agar menjadi ciri khas menunjukkan Jawa yang identik dengan batik dan ukiran.

WAKIS – MASKOT KELAS INSPIRASI SEMARANG

WAKISDimulai sejak Kelas Inspirasi Semarang #3 di tahun 2016, Kelas Inspirasi Semarang akan mengangkat satu maskot yaitu “Wakis” atau kepanjangan dari Warak Kelas Inspirasi Semarang. Wakis lahir melalui goresan pena Burhan Arif alumni relawan pengajar Kelas Inspirasi Semarang #2. Pemilihan karakter Warak adalah berdasarkan hasil diskusi dan inspirasi dari teman-teman pegiat Kelas Inspirasi Semarang.

Warak Ngendhog

Warak ngendhog adalah mainan anak-anak yang dulu sangat populer di kota Semarang dan sekitarnya, dan biasa dijual saat pasar malam atau dugderan menjelang bulan suci ramadhan. Bentuk fisiknya adalah hewan berkaki empat dengan leher panjang, berbulu keriting dengan aneka warna khususnya merah, putih, kuning, hijau dengan sudut-sudut tubuh dan kepala yang lurus, dan kenapa disebut ngendog (bertelur) karena kadang ditaruh sebutir telur di bawah ekornya yang lurus atau disela-sela empat kakinya. Dari sini muncul interpretasi tentang mahluk imajiner ini dengan keragaman penduduk kota Semarang. Bentuk fisik warak ngendhog digambarkan dengan posturnya menyerupai kambing, kepalanya menyerupai naga dan bulunya menyerupai bulu-bulu keriting.

Dalam buku Programa Dugderan Masjid Besar Semarang (2004), bentuk fisik warak ngendhog mewakili suku-suku yang hidup di Semarang. Ada unsur Jawa yang terwakili dalam postur warak yang mirip kambing, sementara unsur Cina ada pada kepalanya yang mirip dengan naga, sedangkan unsur Arab diwakili dengan bulu-bulu rambutnya yang keriting. Dalam sudut pandang para perajin warak dan warga asli Semarang, tubuh warak memiliki sudut-sudut yang lurus dan tegas sebagaimana watak orang Semarang yang suka blak-blakan dan apa adanya. Sudut tubuh dan kepala yang tidak meliuk-liuk, simetris dan paduan antara tubuh kuda, leher unta dan kepala naga dengan bulu keriting berwarna merah, biru, hijau dan kuning. Warak ngendhog sudah menjadi pemandangan lazim dan termasuk sebagai maskot kota Semarang. Tradisi Semarang warak ngendhog adalah mainan khas kota Semarang yang muncul sekali dan hanya hadir di perayaan tradisi dugderan.

Selain mewakili akulturasi budaya dari keragaman etnis yang ada di kota Semarang. Kata warak sendiri berasal dari bahasa arab “Wara’I” yang berarti suci dan “Ngendhog” disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, warak ngendhog bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di Hari Lebaran.

Pada Kelas Inspirasi Semarang #3 ini, dipilihlah Warak ngendhog ini sebagai wujud dari maskot Kelas Inspirasi Semarang karena warak ngendhog merupakan juga maskot dari kota Semarang yang sudah dikenal hingga keluar kota Semarang. Selain itu warak ngendhog juga merupakan akulturasi keragaman etnis di kota Semarang. Wakis sendiri menggambarkan keberagaman profesi para relawan pengajar yang akan menginspirasi anak-anak sekolah dasar di kota Semarang. Harapannya setelah mendapatkan cerita-cerita inspiratif dari para relawan pengajar anak-anak SD memiliki cita-cita yang lebih beragam dan bersemangat untuk mencapai cita-citanya tersebut.

*sumber: https://sejarahsemarang.wordpress.com/warak/

MARI BERBAGI :