Ada yang tau apa itu Kelas Inspirasi? Belum?? Kok persis kayak aku dulu sih. Oke oke, biar tidak terlalu banyak preambule, silakan menuju web Kelas Inspirasi untuk lebih detailnya ya. Klik aja di sini (link)

Berkat Sosmed dan Komunitas

Selama ini banyak yang menilai sosmed itu (terutama Facebook ya) lebih pas digunakan sebagai ajang ratapan, mencaci, pamer dan berbagai aktivitas yang telah distereotipkan secara berjamaah. Padahal, masih ada loh banyak kebaikan yang bisa didatangkan dari sosmed yang satu itu.

Aku lupa kapan tepatnya melihat ramai-ramai para relawan di Jabodetabek posting kemeriahan mereka mengikuti Kelas Inspirasi (KI). Jadi penasaran doooonkk apaan tuh Kelas Inspirasi. Sepertinya gaya banget. Eksklusif gitu yak 😉

Then I was surprised by the fact, it’s not exclusive at all. Semua bisa ambil bagian. Semua diharapkan turun tangan. Lho?

Oke simpan ‘lho’ itu beberapa saat dulu ya. Lanjutkan dulu, dengan berkat sosmed tadi. Dengan melihat banyak postingan tentang KI, aku jadi penasaran ingin ikut juga ke dalamnya. Apalagi teman-teman di komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) Semarang pada rempong kasak kusuk tentang hal ini. Saat informasi pendaftaran untuk relawan KI di Semarang (KIS) terdeteksi, duuuuuhh tak ada berhentinya deh saling bertanya sudah daftar atau belum. In the future, terima kasih luar biasa untuk gerombolan rempongku itu karena selalu saling menyemangati untuk ikutan KIS. Muuuuaahhh…. *ambil handuk sendiri-sendiri ya 🙂

Pendaftaran KIS yang Bikin Pening

Yang paling kuingat saat forward link untuk mendaftar. Pertama sih semangat. Ini dia calon inspirator handal *halaaahh… Eh begitu ketemu pertanyaan-pertanyaannya, langsung deh kliyengan.

Selain biodata standar macam nama, umur, tempat tinggal dan bla bla blaa lainnya, di form itu ditanyakan juga tentang pekerjaan, organisasi yang diikuti, prestasi yang pernah dicapai, terus juga apa kontribusi dari pekerjaan itu terhadap lingkungan atau masyarakat. Degh… jantungku serasa copot. Selama ini lingkungan sekitarku mendapat manfaat nggak ya dari pekerjaanku? Haruskah seperti itu?

Langsung deh shocked dan mengestimasikan diri gak bakalan lolos pendaftaran. Ya sudah deh, kalau kata orang Jawa itu ‘kalah cacak menang cacak’. Nggak ada salahnya dicoba untuk mendaftar. Keterima ya syukur, kalau enggak ya keterlaluan deh Pak Anies *eh

Hari Briefing

Dapat email undangan untuk mengikuti briefing tanggal 13 September itu ada seru-seruannya juga. Teman-teman satu komunitas kan sering bertanya, dapat undangan enggak. Eh, ada yang udah dapat. Lah aku kok belum. Tuuuh bener kan aku nggak lolos. Pengiiiin rasanya saat itu daku pergi ke bulan, kupetik bintang, dan kubawa pulang *turuuunn..turuuunn…lempar segepok dollar 🙂

Ternyata oh ternyata, undangan yang untuk diriku datang di hari berikutnya, tepatnya tanggal 5 September. Lihat punya lihat, acara briefing akan diselenggarakan tangal 13. Hari Sabtu tuh, padahal Sabtu kan masih jatah ngejar orderan di tempat mburuh. No other choice, cuti for happy lah yaaa 😉

Bertempat di gedung Indosat Pandanaran, sekitar dua ratusan orang memenuhi ruangan yang telah disediakan. Keren loh ini Indosat, bisa meminjami ruang yang luas sekali untuk pertemuan.

Baiklah sob, mari kita lihat-lihat sedikit yang bisa ku-capture sebelum kamera saya ‘wafat’ gara-gara jatuh saking semangatnya. Iya, ihiks… si orange remuk sesaat setelah meluncur ke lantai di luar ruangan ini. Foto penampakan ‘si luas’ di atas tadi adalah image terakhir sebelum si orange ‘gugur’. Udah bosen kali yes si orange motret nyonyahnya xixixiii…

Biarpun sudah dibagi per kelompok, pertama kali masuk ke ruang briefing, kami semua tetap duduk suka-suka. Aku pun langsung menuju posisi depan di sayap kiri. Posisi menentukan prestasi kan?

Oya, sebelum menceritakan tentang briefing, ada satu spot di acara ini yang sangaaaat kusuka. Apaan tuuuh? *yg ngikut merem sebelah ketauan umurnya berapa :p

Tempat parkir sepatu. Hohohoooo…rapi juga nih panitianya. Karena ruang briefing telah diberi alas semacam karpet empuk, tentunya tidak etis kan kalau alas kaki ikut-ikutan nongkrong di sana. Oleh karena itu, agar tidak semrawut di depan pintu, alas kaki ini diberi tempat khusus. Saat tuan dan nyonyanya sedang khusyuk briefing, mereka juga briefing sendiri loh. 🙂

Sebelum briefing dimulai, kami semua diperbolehkan untuk sedikit narsis di sini.

The Briefing Itself

Briefing dimulai setelah rasanya sekian abad menunggu. Iya, katanya undangan pukul 07.30, tapi entah hingga jam berapa ya waktu itu mulai. Untunglah banyak temen komunitas yang ikut, jadi masih bisa seseruan meskipun di-php-in undangan 🙁

Seperti layaknya acara resmi, ada beberapa sambutan dan performance. Salah satu yang memberikan sambutan waktu itu ada dari pihak Indosat juga. Dan ternyata beliau (maaf bu lupa namanya) jadi relawan pengajar juga loh. Kereeeenn… Bu, boleh ikutan menggunakan ruang pertemuan ini lagi nggak buat acara komunitas yang lain? *spleteran 🙂

Acara ini menurutku jadi meriah karena host-nya yang keren, terutama Mba Caca. Kemayu nggemesin gitu loooh… toss dulu mba. Mas blangkon Farhan juga oke, cuma kurang gokil kayak Mba Caca. Mas, saya neng Cassandra mas, masih inget kaaaan… 😉

Ada juga share pengalaman para mantan relawan Kelas Inspirasi sebelumnya. Mereka bagi-bagi tips gimana nantinya saat kami calon pengajar KIS akan menghadapi anak-anak SD. Bagaimana bicara dengan anak kecil, bagaimana menarik perhatian anak-anak nanti pas di depan kelas, dan aneka tips praktis lainnya. Kedua orang penggiat Kelas Inspirasi dari Jakarta itu adalah Mas Bayu dan Mas Dhika. Temanku ada loh yang sampai terpesona kepada salah satu dari mereka. Uhuukkss…

Seperti yang sudah diketahui secara umum, Kelas Inspirasi tak bisa dipisahkan dari Indonesia Mengajar. Program yang digagas oleh Pak Anies Baswedan ini mengusung para anak muda yang penuh semangat dan kerelaan berbagi kepada anak bangsa yang memang benar-benar membutuhkan uluran tangan di bidang pendidikan. Di hari briefing ini pun, kami kedatangan tamu istimewa. Tiga orang lulusan Indonesia Mengajar yang ternyata masih muda dan enerjik.

Aku cuma ingat salah satu dari ketiga Pengajar Muda (PM) ini. Mba Lana yang lincah dengan suara menggelegar. Pas banget memang kalau dia jadi PM. Ketiga PM ini berbaik hati untuk membuka wawasan kami para calon relawan KIS bagaimana nantinya menghadapi momen-momen ‘krik krik’ di depan kelas.

Terima kasih ya mba-mba yang cantik, tipsnya keren banget. Tapi sepertinya prakteknya tak seindah impian. *bocoran untuk tulisan berikutnya 🙂 *ditulis miring

Setelah mendapatkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat sebagai bekal mengajar di KIS nanti, kami pun akhirnya diminta untuk melakukan briefing lanjutan per kelompok. Oya, sebagaimana di Kelas Inspirasi sebelumnya, KIS pun terbagi menjadi relawan Pengajar dan relawan Fotografer atau Videografer. Jadi nantinya, ada yang melakukan kegiatan mengajar, ada juga yang mendokumentasikannya. Semuanya disebut relawan karena seratus persen tidak mendapatkan subsidi. Semua biaya dan peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan ini murni dari para relawan.

“Relawan itu tidak perlu berkorban.
Cukup cuti sehari, maka seumur hidup menginspirasi”

Quote di atas benar sekali adanya. Khusus untuk diriku sendiri, aku memang tak perlu berkorban apa-apa. Cuti sehari saja sudah cukup. Toh buatku cuti itu tidak merugikan. Malah memberikan efek menyenangkan loh. Melakukan sesuatu di luar rutinitas adalah resep self healing yang manjur dari kepenatan bekerja enam hari seminggu. Jadi, sama sekali bukan bentuk pengorbanan kan ini? *langsung dikasih piagam khusus dari Pak Anies 😉

Kelompok lima dengan fasilitator Mas Gayuh dan Mba Indriy adalah :
(minus para relawan yang batal datang di hari H)
Selain relawan dan fasilitator, saat briefing lanjutan ini kami didampingi pula oleh Kepala Sekolah (dalam hal ini diwakili oleh Wakil Kepala Sekolah) SD Islam Syahidin. Kami mendiskusikan rencana materi berdasarkan kondisi sekolah. Berapa jumlah kelas, jam belajar di sekolah tersebut, fasilitas apa yang dimiliki sekolah yang bisa kami jadikan penunjang saat hari inspirasi, dan sebagainya.

Tentu saja perjumpaan yang terbatas ini belum menghasilkan gambaran secara lebih detail apa yang akan kami lakukan nanti saat Hari Inspirasi. Masih butuh ketemuan dan survey ke lokasi sekolah. Disepakatilah beberapa rencana ketemuan.

We’ll continue the story in the next part, okay?? It’s already too long. Bosen kan kalau nggak selesai-selesai ceritanya 🙂 Berikutnya nanti akan kusampaikan persiapan menjelang saat mengajar, D-day Hari Inspirasi maupun saat refleksi.

Nah, biar siap untuk bosen di bagian selanjutnya, pamer dulu ya beberapa foto geje yang kudapat dari koleksi teman-teman sekelompok maupun panitia KI. Pinjem fotonya ya cyiiinttt….

See you at the next post, dearest friends :*

 

(Bersambung) lanjut Tulisan Bagian 2

=====================================
Ditulis 10 Oktober 2014
Penulis : Uniek Kaswarganti
Sumber foto : milik Uniek Kaswarganti
Sumber tulisan asli : link

(Visited 110 times, 1 visits today)
MARI BERBAGI :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *