Ini saya gak lagi typo nulis judul. Saya juga bukan pengagum lagu Kesempatan Kedua-nya Tangga maupun Kali Kedua-nya Raisa saya pengagum lagu Akad-nya Payung Teduh *eaaa,  yang kemudian terinspirasi dan memilih judul ini. Sesungguhnya, judul ini saya pilih karena saya dapat kesempatan kedua untuk ambil peran di Kelas Inspirasi Semarang. Saya selalu percaya kalau kesempatan itu datang berulang, yang membedakan adalah kita sadar atau tidak ketika kesempatan itu datang.

Nah bagi yang notice, mungkin bakal mikir, “Mbaknya ini kok nggragas banget, tahun kemarin udah nulis, sekarang nulis lagi.”  Lho ya gakpapa, kalau kata Pramoedya Ananta Toer, orang yang menulis jauh lebih disayangi ketimbang yang tidak, karena dengan menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Jadi, apa sih yang saya dapat di kesempatan kedua, kali ini?

Atis. Kalau di Kelas Inspirasi Semarang 3 saya disambut hangatnya matahari Meteseh, kali ini saya disambut dingin menusuk tulangnya Nyatnyono.  Ini baru tentang panas dan atis. Ada beberapa hal yang sama, yang saya temui antara Kelas Inspirasi Semarang 3 dan Kelas Inspirasi Semarang 4. Selain sekelompok lagi sama Mas Fitra dan Mbak Visi, saya juga menemukan kesamaan lainnya.

Familiar gak, sama tulisan yang pernah disiar ulang oleh instagramnya @kisemarang dengan caption:

“Dek Kinanti, yatim itu besar. Lihatkan, Nabi Muhammad juga yatim tapi bisa jadi orang besar. Dek Kinanti pasti bisa jadi kayak yang ditulis di pin cita-citanya. Dek dr. Kinanti, sampai ketemu di masa depan. Salam sayang dari Kak Dhina.”

Cerita yang pernah saya tuliskan, setelah saya ketemu sama Kinanti, siswa kelas tiga MI Muta’alimin. Gadis kecil yang hangat dan pemalu. Gak di-nyana, saya menemukan Kinanti yang lain di MI Nyatnyono 01, ndilalah-nya kok juga kelas tiga. Bedanya, Kinanti yang ini begitu pemberani. Ia adalah ketua kelas yang ceriwis. Selama di kelas, ia selalu sampaikan apa yang dia pikirkan, bahkan dia tidak sungkan menyampaikan keresahannya. Bersama temannya, ia belajar menyimulasikan bagaimana biasanya pelanggan listrik negara mengeluh jika listriknya padam. Dan dengan polosnya, temannya merespon, “Rekeninge durung dibayar paling-an.” Begitu gemas, pengen dibungkus dan dibawa pulang.

Kalau kata Emha Ainun Nadjib, “Anak-anak adalah fase di mana seorang manusia bisa berbahagia dengan jujur dan sederhana.” Dan benar saja, saya selalu menangkap hal itu dari mereka. Sebuah kerugian, karena saya tidak sempat mengabadikan kelucuan Kinanti dan teman-temannya melalui kamera.

Pesan saya untuk mereka, “Jadilah manusia yang merdeka dan idealis. Selalu berani, jangan takut. Setiap dari kamu punya hak yang sama untuk bercita-cita. Bermanfaatlah kamu, dimanapun, kapanpun dan untuk siapapun.”

Sampai ketemu di dewasamu, adik-adikku.

================================
Ditulis  30 September 2017
Penulis : Gineung Patridhina -Staff HR (Relawan Pengajar MI Nyatnyono 01)

MARI BERBAGI :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *