R E L A W A N

Jika tiba-tiba kita tergerak untuk peduli dengan sesama
itu tandanya Allah sedang menunjukkan kasih sayang-Nya

Pagi ini mungkin seperti pagi biasanya bagi sebagian orang, tapi untukku?
Pagi ini benar-benar istimewa
Hari ini, aku akan bertemu dengan adek-adek hebat yang Allah takdirkan suatu saat nanti di antara mereka akan menjadi calon pemimpin bangsa Indonesia.

Yes, pagi itu tepatnya tanggal 19 September 2016, pertama kalinya aku mengikuti Kelas Inspirasi Semarang 3 dan mendapat jatah mengajar di SDN Muktiharjo Lor, oh iya yang belum tau lokasi SD tersebut, letaknya di kawasan Kaligawe Semarang. Jangan harap mendapat SD dengan fasilitas wah, pasti ga nemu karena memang sasaran acara ini untuk SD marginal di kota Semarang yang justru itu menjadi hal yang membuat aku bangga bisa mengikuti acara ini.

Jam 7 bel berbunyi, tanda upacara bendera harus dimulai (ya Allah setelah bertahun-tahun ga upacara akhirnya ikut upacara lagi hohohohoho), momen paling berkesan adalah ketika proses pengibaran bendera, entah kenapa aku baper banget sampai ga kerasa mata tetiba basah (ah kayaknya ada debu deh) apalagi pas pemimpin upacara berteriak “Kepada Sang Merah Putih, Hormat Grak!” duh jadi teringat jaman dahulu pas jadi petugas upacara dan dapat tugas buat baca UUD 45.

Setelah upacara selesai, tiba saatnya momen yang menjadi inti aku mengikuti acara ini. Yup, aku ingin mengajar di ruang kelas anak-anak SD. Mungkin hal ini merupakan hal sederhana dan biasa bagi sebagian besar orang, tapi tidak untukku. Aku punya cita-cita, yaitu suatu saat dapat mengajari betapa ilmu pengetahuan merupakan mata pelajaran yang menyenangkan. Profesiku sebagai peneliti di bidang kimia membuat aku miris karena sebagian besar menganggap aku hanya pembuat bom dan formalin. Untuk itulah aku ingin mengajarkan kepada mereka tentang hal sederhana berupa sulap yang ternyata itu terjadi karena adanya reaksi kimia dan setiap orang dapat memahaminya.

Mulai dari masuk ke kelas 1-6, aku akhirnya tahu bahwa cara mengajar masing-masing tingkatan kelas ternyata berbeda. Kelas 1 yang hanya bisa kita ajak bergembira; kelas 2 yang mulai mengerti; kelas 3,4,5 hampir sama dimana mereka mulai penasaran dan berinteraksi dengan apa yang kita ajarkan serta ikut serta untuk praktek bareng dan terakhir kelas 6 yang mulai mengajukan pertanyaan tentang profesiku dan akan jadi apa jika dia mengikuti pendidikan seperti aku. Ah benar-benar menjadi momen tak terlupakan.

Ada satu peristiwa yang masih membuat aku terharu hingga sampai saat ini, ketika aku mengingatnya. Saat aku mengajar kelas 6, di akhir pertemuan ada seorang anak laki-laki yang tetiba menghampiriku dan bilang padaku, “ibu, suatu saat aku akan lebih hebat dari ibu, aku akan jadi peneliti seperti ibu dan menjadi profesor dan aku akan belajar giat biar bisa seperti ibu yang bisa sekolah gratis.” Ya Allah aku benar-benar mengamini kalimat itu dan aku berdoa saat itu ada pintu langit yang terbuka dan malaikat mencatat kalimat itu sebagai doa yang suatu saat dikabulkan oleh Tuhan YME. Padahal aku tahu apa profesi  orang tua anak itu setelah aku ajak ngobrol di waktu istirahat. Tapi bukankan Tuhan Maha Kaya yang bisa dengan mudah mewujudkan cita-cita seseorang yang bersungguh-sungguh, bukan?

Terima kasih buat temen-temen Kelas Inspirasi Semarang yang telah menerima aku menjadi relawan pengajar. Dari KI Semarang akhirnya aku sering mengikuti acara ini mulai dari KI Salatiga, KI Pekalongan, KI Grobogan dan KI Magelang.

Karena Bahagia itu Sederhana, sesederhana membantu mewujudkan cita-cita anak bangsa.

Dan Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain?

Karena sehari mengajar
Seumur Hidup Menginspirasi

======================================================
Penulis : Dwi Titik – Peneliti [Relawan Pengajar KIS 3]

Sumber Foto : Dyah Roro

 

 

MARI BERBAGI :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *