Sejak hari inspirasi selesai, rasanya saya sudah tidak sabar untuk mengabadikan lewat tulisan. Tapi.. niat hanyalah niat ketika harus berbenturan dengan dunia kerja yang tidak mengenal waktu dan akhirnya tertunda sampai di penghujung akhir tahun 2014, dan saya menyadari betapa malasnya diri ini hehehehe. Sebelumnya saya sudah berjanji dengan teman-teman dari Kelas Inspirasi untuk mengabadikannya agar bisa di sharing kepada teman-teman relawan lainnya.

Dan well inilah sepenggal kisah cerita di Kelas Inspirasi Semarang

Saya selalu yakin dengan apa itu mimpi.
Mimpi adalah ruh untuk kehidupan agar bisa menjadi lebih baik, karena menurut saya hidup tanpa mimpi hanyalah sebuah robot yang dikendalikan lewat baterai, berjalan apa adanya tanpa mengharap sesuatu yang lebih baik. Saya yakin semua orang pasti mempunya mimpi, tapi.. sedikit yang bisa mewujudkannya karna mungkin tekad yang belum kuat atau mereka yang sudah berada di posisi nyaman.

Bermula di tahun 2011 ketika saya masih di bangku kuliah, saya sudah mendengar tentang Indonesia Mengajar, dimana para pemuda pemudi terbaik dari negeri ini datang untuk berbagi dengan para penerus bangsa di garda terdepan Indonesia di daerah terpencil. Terlebih ketika saat itu ada seorang anak SD dari Majene yang menjadi finalis di Olimpiade Sains Jakarta. Dengan keterbatasannya di berbagai fasilitas sekolah bahkan dalam segi kehidupan membuatnya mampu bersaing dengan anak kota yang ada di pulau Jawa yang notabene sudah hidup dengan layak. Disitu saya salut dengan kak Wiwin yang kala itu menjadi relawan di Majene dan mengantar anak tersebut menjadi finalis Olimpiade Sains. Saya berpikir, melakukan suatu hal yang sederhana dan berkorban sedikit dengan meninggalkan kenyamanan hidup yang saat ini dijalani adalah sebuah pengabdian yang tak ternilai apalagi menjadi sosok guru yang rela mengajar di daerah terpencil. Dengan mengharap satu tujuan yaitu bisa berbagi pendidikan dengan mereka yang ada di seberang sana dengan segala keterbatasannya.

Setelah lulus kuliah, saya mencoba untuk mendaftar menjadi pengajar muda, namun gagal. Mungkin karena saya kurang canggih dan inspiratif hehehe dan memang persaingan kala itu sangat ketat, dan semuanya adalah pemuda pemudi terbaik dari berbagai daerah. Minder bangettt…

Seiring berjalannya waktu (sudah seperti novel yg sedih ya) tanpa di duga saya di terima menjadi reporter di salah satu media yang memiliki nama di tingkat nasional. Saya sangat terkejut sekali, karena memang benar-benar tidak menyangka sama sekali. Ketika masih kecil kira-kira sekitar umur 6 tahun, saya memiliki cita-cita untuk menjadi wartawan, kebetulan ayah saya adalah seorang wartawan, disitu saya melihat ayah saya banyak bertemu dengan orang-orang penting, seperti Presiden RI Gusdur kala itu, gubernur, walikota, bupati, bahkan sampai tingkat artis pun ayah saya kenal. Suatu hari ada perayaan dugderan di Semarang yang memang sering diadakan setiap tahunnya di Semarang menjelang awal bulan puasa Ramadhan. Waktu itu saya masih berumur 6 tahun, karena ayah saya wartawan, saya bisa berfoto bersama dengan Mandra, Mak Nyak, Atun, Rano Karno, Basuki dan keluarga dari Sinetron Si Doel Anak Sekolah, waktu itu memang sinetron ini sedang hits. Dari situlah akhirnya saya ingin menjadi wartawan ketika nanti sudah besar seperti ayah saya :). Siapa kira cita-cita saya di umur 6 tahun akhirnya terwujud sekarang, ituulah yang ingin saya bagikan kepada anak-anak Indonesia bahwa bermimpi itu indah, dan Tuhan selalu memeluk mimpi-mimpi kita selama kita berusaha.

Sampai suatu ketika saya sedang bermain Facebook, ada notif dari seorang teman yang menge-tag saya tentang Kelas Inspirasi di Semarang, dengan penuh semangat saya langsung tertarik dan ingin bergabung menjadi relawan. Saya mencoba untuk mereview kegiatan kelas inspirasi lewat Youtube dan berhasil membuat saya merinding, bahwa dengan menginspirasi satu hari outputnya bisa sangat luar biasa untuk anak-anak Indonesia kita. Sempat tidak bisa mendaftar karena sambungan internet lelet dan itu sudah masuk di akhir pendaftaran, sampai akhirnya Mbak Kinan, ketua panitia, menghampiri saya dengan memberikan formulir KI Semarang agar bisa bergabung sebagai relawan. Sedikit tidak sopan memang, tapi.. apapun itu saya sangat berterima kasih kepada Mbak Kinan atas dukungannya dengan mampir ke kantor saya dan akhirnya saya bisa bergabung bersama dengan relawan lainnya di kelas inspirasi.

Menjadi pengajar memang sudah tak lagi asing bagi saya, sebelumnya saya pernah mengajar ketika saya masih setingkat SMA. Karena di almamater saya dulu (PonPes), seorang pelajar wajib bisa mengajar agar kelak tau bagaimana rasanya menjadi pengajar. Apalagi pak kyai saya selalu bilang ” Apa yang kamu lihat, dengar dan rasakan semuanya adalah pendidikan”. Dan itulah bekal awal saya berani untuk menjadi seorang pengajar. Tanpa menggunakan teknik dari apa yang sudah diajarkan di bangku kuliah jurusan pendidikan, seorang yang sudah terdidik pasti mampu mengajar dengan gaya tersendiri apalagi jika itu tentang profesi yang setiap hari dijalani.

Mulailah saya di kelas pertama di jam kedua, kebetulan saya masuk di kelas 3 SD. Biasanya anak-anak kelas 3 SD adalah masa peralihan dari kanak-kanak banget hendak menjadi anak-anak yang manis, kalau di ilmu pramuka kelas tiga adalah senior dari kelompok siaga. Sedikit ramai memang, dan saya akui saya tidak menguasai kelas T_T. Kondisi kelas yang waktu itu satu ruangan dan di sekat dengan pintu keluar untuk ke kelas lain, membuat suara saya lenyap bagaikan di telan bumi, saat saya teriak-teriak untuk menenangkan mereka, tidak kedengaran sama sekali karena ruangan tidak menggema. Saya bingung, apa yang akan saya ajarkan, hendak emosi juga karena anak-anak semuanya ramai menggebrak-gebrak meja, bingung dengan suasana seperti itu, akhirnya saya cukup cerita tentang profesi saya yang hanya sekedar bertemu dengan pejabat dan artis. Tapi, hal itu membuat mereka sedikit tenang dan memperhatikan saya lagi, bahkan ada yang bertanya apakah saya pernah bertemu dengan artis Ganteng-Ganteng Serigala -__-“.

Ketika suasana sudah kondusif akhirnya saya mencoba metode baru untuk memberikan penjelasan tentang profesi saya, karena menjelaskan 5W 1H untuk mereka belum cukup untuk dimengerti. Saya banting ke ilmu pengetahuan mereka tentang tokoh–tokoh Indonesia, seberapa mereka tahu tentang orang-orang penting di Indonesia. Mulai dari presiden, menteri, sampai tingkat gunernur Jateng mereka tahu, setelah suasana sedikit asik saya tanya kepada mereka, kalau ketemu presiden apa yang mau ditanyakan?? Yess…. saya berhasil membawa mereka ke profesi saya yang notabene adalah tukang tanya dengan pejabat, banyak sekali yang ingin mereka tanyakan, dan di akhir kelas saya memberikan kertas warna yang diberi nama dan cita-cita mereka untuk diterbangkan. Sampai akhirnya mereka menyimpulkan bahwa profesi wartawan adalah mereka yang selalu bertanya pada pejabat, radak jleb juga sih tapi memang begitulah pekerjaan saya. Hahahaha

Selanjutnya saya kebagian 90 menit untuk mengajar di kelas 6 atau setara dengan 2 sesi, kondisi ini karena ada beberapa relawan yang mundur sehingga akhirnya jadwal menjadi double. Ketika saya masuk kelas, suasananya sangat tenang dan memang selayaknya kelas seperti itu. Mungkin karena mereka adalah paling senior di sekolah sehingga terlihat lebih dewasa. Saya merasa Tuhan sedang bersama dengan saya, karena suasana mengajar sangat kondusif, saya ceritakan profesi saya tentang siapa itu reporeter, Alhamdulilah mereka cukup mengerti karena ada beberapa di antara mereka yang hobi menyimak perkembangan informasi, 30 menit, cukup menjelaskan profesi saya, tapi masih 60 menit lagi saya harus berada di kelas itu. Saya mulai bingung untuk ngapain hehehe.

Dan saya melakukan apa yang sudah saya praktekan di kelas 3 tadi, yaitu dengan menguji mereka tentang pengetahuan umum khususnya tokoh-tokoh. Karena sudah kelas 6 saya pikir mereka mulai ‘aware’ dengan keadaan lingkungan, untuk itu saya mencoba bertanya tentang tokoh Indonesia mulai dari presiden 1-7, gubernur dan saya tambah ke walikota. Ada satu hal yang membuat saya sedikit tercengang, ketika saya tanya siapa walikota Semarang, ada sekitar 3-5 orang menjawab ” SUMARMO”. Saya langsung kaget luar biasa, *(ceritanya, Pak Sumarmo adalah Walikota Semarang periode 2010-2015, namun karena ada kasus korupsi tahun 2012 akhirnya beliau ditahan dan digantikan oleh Plt.Hendrar Prihadi yang kemudian dilantik di akhir tahun 2013 menjadi walikota menggantikan Sumarmo). Lalu saya tanyakan darimana mereka tahu? Ternyata ayah mereka punya kaos dengan jargon “MARHEN” (Sumarmo-Hendi) pada saat beliau kampanye.

Dengan sedikit memasang muka sedih saya jelaskan bahwa beliau sudah tidak lagi menjadi walikota namun sudah digantikan oleh wakilnya karena kasus korupsi. Banyak sekali pertanyaan bermunculan, mulai dari pertanyaan kenapa korupsi? dan semacamnya, karena saya tidak mengetahui secara pasti kasusnya seperti apa karena waktu itu saya belum jadi kuli tinta hehehe jadi kurang begitu paham, dan saya pikir tidak mudah untuk menjelaskan kepada anak-anak untuk mencerna kasus korupsi. Kemudian saya mencoba mencari akal agar anak-anak tidak lagi menanyakan soal itu, dan tiba-tiba saya mempunyai ide untuk membuat surat kepada Pak Gubernur Jawa Tengah. Di dalamnya saya kasih kisi-kisi tentang pertanyaan 5W 1H. Dan merekapun sontak sangat ‘excited’ sekali. Karena tidak ada persiapan apapun untuk menulis surat, saya tidak membawa kertas HVS atau semacamnya, yang saya bawa hanya kertas warna, dan akhirnya saya menyuruh mereka untuk menulis di kertas warna tersebut. Sejenak kelas hening, semua penuh konsentrasi untuk memberikan pertanyaan terbaik untuk pak gubernur.

Akhirnya surat terkumpul, dan tepat kelas sudah selesai. Di ruang guru, saya membaca satu persatu tulisan anak-anak kelas 6 tadi, isinya waaaaa sangat bermacam-macam, ada yang benar-benar menulis pakai hati ada juga yang hanya sekedar ‘say hallo’ dan curhat, curhat karena sekolah gak punya lapangan, ring basket, minta dibelikan kipas angin, meja dan kursi baru serta ada yang jadi fansnya pak gubernur dan ingin bisa berfoto bersama dengan pak gubernur sekeluarga, sedikit ngikik memang melihat tulisan anak-anak yang masih polos. Namun, ada satu tulisan yang membuat saya sangat takjub, karena ada satu surat dari Sofa ynag mencoba untuk berkeluh kesah dengan pak gubernur, bahwa ia menginginkan sekolah dan fasilitas kesehatan gratis untuk orang tidak mampu, lalu agar pemerintah mau memperbaiki sistem pendidikan yang ada karena dia (Sofa) prihatin melihat kakak mereka di bangku SMA yang suka tawuran dan mahasiswa yang demo secara anarkis, di surat itu Sofa menanyakan, sebenarnya apa yang mereka ributkan sampai-sampai harus tawuran?

Tepat tanggal 1 Oktober, setelah Upacara Kesaktian Pancasila di halaman kantor gubernur dan setelah wawancara, saya menyerahkan isi surat itu kepada beliau. Dan hari sebelumnya saya iseng-iseng memposting foto surat dari adik-adik ini di akun gubernur jateng (@ganjarpranowo) dan tak disangka beliau merespon dengan baik, setelah itu yakinlah saya untuk memberikan surat itu kepada beliau. Lewat tulisan ini, saya juga mau mengucapkan terima kasih kepada rekan wartawan saya Mas Mega (Kompas TV), Mas Rajib (Cakra TV) dan Mas Eka (Koran Sindo) atas info disposisi pak gubernur untuk memberikan titipan surat mulia ini. hehehe

Surat sudah di tangan Pak Gubernur, beliau langsung membacanya di depan jajaran SKPD Pemerintah Provinsi Jateng didampingi oleh perwakilan dari Kodam Diponegoro dan Polda Jateng serta Sekda Provinsi. (lengkap ya karna memang habis upacara jadi lengkap). Dan sampailah beliau membaca surat dari adik Sofa yang memang saya taruh paling depan, beliau berkomentar ”Ini tulisan anak SD, lebih realistis daripada anggota DPR yang suka bikin alasan normatif”. Beliau sangat senang sekali, dan mengapresiasi kegiatan kelas inspirasi di Semarang, dan saya cukup tersanjung dengan pujian itu meskipun saya hanya relawan bukan panitia. ahahahaha

Potret dari situlah bahwa pemerintah juga harus mendengarkan ocehan anak-anak yang masih polos dan bahkan memiliki alasan yang realistis dalam melihat hal apapun, dibandingkan dengan orang dewasa yang cenderung mencari aman (ini kata pak gub loh… bukan kata saya). Mungkin apa yang saya lakukan adalah hal kecil yang bisa dilakukan oleh semua orang terutama oleh rekan seprofesi, mungkin suatu hari nanti ada relawan lainnya yang bisa membawa unek-unek adik-adik kita ke pejabat lainnya atau bahkan sampai di tangan presiden dan suara mereka bisa dipertimbangkan. Lewat kelas inspirasi ini semoga semakin banyak para profesional yang peduli akan pendidikan di Indonesia, dan seperti tulisan Pak Anis Baswedan yang saya kutip “Lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan, bergerak melakukan sesuatu”. Paling tidak kita bisa melunasi salah satu dari empat janji kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Terima kasih kelas Inspirasi Semarang @KI_Semarang

=========================
Ditulis 3 Desember 2014
Penulis : Himmatul Ulya
Sumber foto : milik Himmatul Ulya
Sumber tulisan asli : link

(Visited 137 times, 1 visits today)
MARI BERBAGI :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *